
Ibarat film, maka Valentine’s Day juga punya tokoh-tokoh utamanya. Siapa saja mereka? Inilah para bintang-bintangnya:
SANTO VALENTINUS
Istilah Valentine’s Day berasal dari nama Santo Valentinus. SIapa sosok
Santo Valentinus sesungguhnya? Tidak ada yang tahu. Sehingga dalam usaha
menghapus perayaan dan peringatan yang tidak ada dasarnya, tidak
diketahui asal-muasalnya, Gereja pernah menghapus peringatan Valentine’s
Day dari Kalender Gerejawi pada tahun 1969 dan melarang jemaatnya untuk
merayakan Hari Kasih Sayang tersebut.
Dalam
perayaan Hari Valentine, orang biasa mengucapkan “Be My Valentine”
kepada pasangannya. Bagi banyak kalangan, ucapan ini seolah-olah
memiliki arti sebagai “Maukah kamu menjadi yang terkasih bagiku?” atau
“Maukah Kamu jadi kekasihku?”. Anggapan ini ternyata salah. Ken Sweiger
dalam artikel “Should Biblical Christians Observe It?” yang
bisa diakses pada situs www.korrnet.org mengatakan bahwa istilah
“Valentine” berasal dari bahasa Latin yang memiliki arti sebagai: “Yang
Maha Perkasa, Yang Maha Kuat, dan Yang Maha Kuasa”. Kata ini dahulu
ditujukan kepada Nimrod dan Lupercus, dewa atau tuhan orang Romawi Kuno.
Maka disadari atau tidak, ucapan “to be my Valentine”, dengan
sendirinya mengandung arti meminta pasangan kita menjadi “Sang Maha
Kuasa” atas diri kita. Hal ini tentu merupakan perbuatan syirik.
CUPID
Mitologi Yunani dan Roma Kuno memang sangat mengagungkan kesempurnaan
ragawi dan juga syahwat. Tidak heran, jika para dewa dewi yang
dipercayai mereka sebagai tuhannya pun disimbolisasikan dalam bentuk
sosok manusia, laki-laki dan perempuan, yang dianggap sempurna tubuh dan
juga kecantikan maupun ketampanannya. Jika seorang dewi maka mereka
disimbolisasikan—dalam ribuan patung dan juga lukisan—sebagai seorang
perempuan muda yang cantik, memiliki tubuh yang menggoda, dan mempunyai
hasrat yang bergelora. Demikian pula penggambaran mereka untuk para
dewanya, digambarkan sebagai seorang laki-laki perkasa, rupawan, dan
juga sama-sama menyimpan hasrat yang dahsyat.
Salah
satu dewa yang mereka puja adalah Cupid (Latin: Cupido, Amor, atau
Eros), atau dalam bahasa Inggris juga biasa disebut sebagai The Desire
(yang memiliki arti sebagai ‘hasrat’, ‘nafsu’, atau ‘syahwat’). Dalam
mitologi Roma Kuno atau Yunani Kuno, Cupid sering digambarkan sebagai
sosok bayi montok nan rupawan dan bersayap dengan panah di tangannya.
Namun ada pula penggambaran Cupid sebagai seorang lelaki rupawan yang
bersayap. Hanya saja,—maaf—baik dalam bentuk bayi atau pun sudah dewasa,
Cupid sama sekali tidak ditutupi sehelai benang pun alias bugil. Bisa
jadi, inilah pesan asli dari yang disebut sebagai “Cinta” yaitu
sesungguhnya adalah “Hasrat atau Nafsu syahwat”.
Di dalam perayaan Valentine’s Day, Cupid tidak boleh tertinggal.
Biasanya, dalam kertas surat atau kartu ucapan, sosok Cupid yang
telanjang lengkap dengan sayap dan busurnya diletakkan di atas atau di
bawah tulisan: “Be My Valentine’s…” Dalam bentuk bayi, Cupid sering juga
ditemui di dalam dekorasi pusat-pusat perbelanjaan menjelang bulan
Februari sepanjang tahun dan diselingi dengan hiasan hati atau bunga
yang didominsi warna merah atau pink dan biru.
Dalam kepercayaan pagan, Cupid merupakan anak dari Nimrod ‘The
Hunter’ alias Dewa Matahari (Raja Namrudz) dengan Dewi Aphrodite, Sang
Dewi Kecantikan yang popular dengan sebutan Dewi Venus. Cupid atau Eros
ini dianggap sebagai Dewa atau Tuhan Cinta, karena raganya yang sangat
rupawan. Bahkan dalam mitologi tentangnya diceritakan, ibu kandungnya
pun tertarik secara seksual dengannya dan melakukan perzinaan dengan
anaknya sendiri! Sesuatu yang memang dianggap lumrah dalam masyarakat
pagan Roma.
PAUS GELASIUS I
Gelasius terpilih menjadi Paus pada 1 Maret 492 M dan menerima warisan
berupa konflik dan ancaman perpecahan (skisma) antara Gereja Barat yang
berpusat di Imperium Romawi dengan Gereja Timur yang berpusat di
Konstantinopel (Istanbul sekarang), Turki.
Paus Gelasius I tercatat dalam sejarah sebagai seorang pemimpin
Gereja (Katolik) yang ‘meresmikan’ atau mengadopsi perayaan paganisme
Romawi Kuno, The Lupercalia Festival, menjadi satu perayaan keagamaan
Gereja dan masuk dalam deretan hari-hari besar gerejawi. Ketika itu,
Gelasius menulis surat dan mengirimkannya kepada seorang anggota senat
Roma bernama Andromachus. Isi surat tersebut menyatakan bahwa
kontroversi tentang festival kesuburan dan pemurnian “The Lupercalia
Fest”, yang sedikit demi sedikit dianggap tergusur oleh ajaran
kekristenan dan hal ini menuai kecemasan di sejumlah kalangan petinggi
Roma akan dijaga dan dipelihara oleh Gereja dan akan diadopsi menjadi
salah satu hari perayaan gerejawi.
Gelasius menyatakan, Festival Lupercalian tersebut akan diberi bungkus baru dan akan “dikombinasikan” dengan perayaan Mary The Virgin (Perawan
Maria) yang sering disebut “Candlemas”, yang berlangsung 40 hari
setelah perayaan Natal (25 Desember), yang sebenarnya berlangsung tiap
tanggal 2 Februari. Namun oleh Gelasius, perayaan Mary The Virgin
digeser menjadi 14 Februari dan disatukan dengan hari perayaan The
Lupercalian Festival. Perayaan baru ini diberi label baru dengan sebutan
“The Valentine’s Day”.
Perayaan Hari Valentine kemudian resmi menjadi salah satu perayaan
gerejawi dan berabad kemudian, pada sekitar tahun 1960-an, Gereja secara
resmi menghapus perayaan ini dari daftar kalender gereja. TIndakan ini
merupakan bagian dari upaya gereja untuk menghapus berbagai ritual yang
sebenarnya tidak diketahui asal-usulnya atau sekadar mitos yang tidak
berdasar.
Sesungguhnya, banyak sekali perayaan maupun ritual paganisme Roma
yang diadopsi oleh Gereja hingga sekarang. Hari Natal yang diperingati
Gereja Barat tiap tanggal 25 Desember pun sebenarnya berasal dari ritual
perayaan hari kelahiran Nimrudz The Son of God, anak Dewa Matahari.
Tanda salib pun sebenarnya bukan berasal dari tiang salib tetapi dari
dua lintasan cahaya yang saling berpotongan dan ini sudah lama menjadi
simbol dari Dewa Nimrudz.
KAISAR CLAUDIUS II
Nama aslinya Marcus Aurelius Claudius Augustus Gothicus (10 Mei 213/214 –
Januari 270 M), atau lebih dikenal sebagai Claudius II, seorang Kaisar
Imperium Romawi. Claudius II memerintah Roma hanya selama dua tahun
(268-270), namun di masa kekuasaannnya, Roma memperoleh sejumlah masa
kegemilangan dan sebab itu dia dianugerahi sebuah gelar keagamaan.
Claudius pernah memimpin angkatan bersenjata Imperium Roma saat
pertempuran melawan kaum Goths dalam Battle of Naissus, September 268.
Claudius, seperti juga pendahulunya Maximinus Thrax, menghadapi
penentangan kaum barbarian. Di masa kekuasaannya yang hanya sekitar dua
tahun, Claudius harus membangun angkatan bersenjata yang kuat untuk
menghadapi berbagai ancaman pemberontakan dari dalam maupun musuh dari
luar.
Sebab itulah, Claudius sangat berambisi untuk membangun sebuah
angkatan bersenjata Imperium Romawi yang kuat, kokoh, dan perkasa. Bagi
Claudius, angkatan perang semacam itu hanya bisa dibangun jika para
tentaranya terdiri dari para pemuda yang juga kuat, fokus, disiplin, dan
dan terlatih dengan baik. Bagi Claudius, seorang tentara yang kuat dan
tangguh hanya bisa dipenuhi oleh para pemuda yang tidak memikirkan
hal-hal lain selain penunaian tugas terhadap negara. Claudius menganggap
bahwa para pemuda yang tergabung dalam legiun istimewanya harus
sungguh-sungguh berkosentrasi dalam tugasnya. Salah satu yang dianggap
Claudius sebagai penghalang dan pengganggu konsentrasi adalah hubungan
antara tentaranya dengan para perempuan Roma.
Maka Kaisar Claudius pun mengeluarkan peraturan bahwa para pemuda
yang tergabung dalam Legiun Romanya tidak boleh berhubungan apa pun
dengan para perempuan, bersahabat, berpacaran, atau bahkan menikah. Hal
ini tentu dirasa sangat berat oleh para pemuda Roma. Namun mereka juga
tidak berani untuk menentangnya karena hukuman yang akan diterima jika
ketahuan sangatlah berat.
Dalam kondisi inilah, menurut mitos Valentine Day, muncul seorang
pemuka agama yang disebut Santo Valentine yang secara diam-diam
melakukan upaya peresmian hubungan para pemuda dengan pemudi Roma, dan
menikahkannya.
Suatu waktu Claudius mendengar hal ini dan murka besar. Santo
Valentinus ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara. Mitos ini sudah
kita ketahui akhirnya, dan Santo Valentinus pun menjelma menjadi sosok
misterius yang kepopulerannya di Barat hanya berada di bawah Yesus
Kristus, di mana Hari Valentine menjadi perayaan paling meriah di Barat
setelah Hari Natal di penghujung Desember tiap tahun.
PEBISNIS
Sebenarnya, Hari Valentine tidak akan menjadi semeriah dan segemerlap
seperti sekarang jika tanpa adanya campur-tangan para pebisnis. Sudah
menjadi hukum kapitalisme, bahwa para pebisnis senantiasa mencari-cari
celah sekecil apa pun guna dijadikan obyek bisnis yang bisa mendatangkan
keuntungan material bagi dirinya. Celah ini termasuk perayaan-perayaan
keagamaan, yang oleh mereka dijadikan sebagai ‘perayaan bisnis’.

Sejumlah
pebisnis yang harus bertanggungjawab atas dilestarikannya Hari
Valentine antara lain adalah pebisnis kartu ucapan, pebisnis bunga,
pebisnis media massa, pebisnis coklat, dan sebagainya. Ada banyak orang
yang memanfaatkan momentum ini dan memperalatnya menjadi momentum
mengeruk keuntungan yang luar biasa banyaknya, tanpa peduli bahwa yang
dimanfaatkannya merupakan suatu perayaan yang bersifat merusak moral dan
kemanusiaan.
Salah satu orang yang harus bertanggungjawab adalah pemilik industri
kartu ucapan terbesar dunia, Hallmark. Di dunia Barat, bisnis kartu
ucapan pada hari Valentine mencapai rekor tertinggi setelah Hari Natal.
Kebanyakan yang membeli kartu ucapan Valentine adalah perempuan yang
mencapai prosentase lebih dari 80%.
Di Amerika Serikat, lebih dari 50% kartu ucapan Valentine yang
beredar berasal dari perusahaan Mallmarks Card yang berbasis di Kansas
City, Missouri. Perusahaan yang didirikan oleh Joyce C. Hall pada tahun
1910 berawal dari kebiasaan Joyce C. Hall yang saat itu baru berusia 18
tahun membeli kartu ucapan. Pada tahun 1915, Joyce muda melihat banyak
kartu ucapan menjelang hari Valentine dijual. Dua tahun setelah itu
Joyce bersama saudaranya, Rollie, memulai usaha untuk membuat kartu.
Usahanya yang memakai bendera Hallmark berkembang. Di setiap kartu
ucapan yang diproduksinya, diterakan nama ‘Hallmark’ dan hal tersebut
berlangsung hingga hari ini. Bahkan sejak tahun 2001, usaha pembuatan
kartu ucapan tersebut merambah ke bidang pertelevisian yang disponsori
NBC yang sebenarnya sudah dirintis sejak tahun 1951.
Saat ini, tak kurang dari 18.000 orang menjadi karyawan penuh
Hallmark dengan 4.500 pekerja bertugas di Kansas, pusat dari perusahaan
Hallmark. Di antara mereka terdapat 800 seniman, desainer, penulis,
penyair, dan juru foto. Sampai sekarang tercatat sekitar 48.000 model
kartu ucapan telah diproduksi Hallmark, kebanyakan kartu ucapan Natal
dan Valentine.
Di Amerika Serikat, Miss Esther A. Howland (1828-1904) tercatat
sebagai orang pertama yang membuat dan mengirimkan kartu valentine
pertama. Acara Valentine di negeri Paman Sam ini telah dirayakan
besar-besaran sejak tahun 1800 dan pada perkembangannya, momentum
tersebut telah menjadi perayaan bisnis yang sangat menggiurkan.Sumber: eramuslim.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar