DAFTAR ISI

Jumat, 20 Januari 2012

Din Itu Nasihat

Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus Ad-Dariy r.a., bahwasanya Nabi saw. bersabda yang artinya, "Din itu adalah nasihat." Kami bertanya, "Kepada siapa?" Beliau menjawab, "Kepada Allah, kepada kitab-Nya, kepada Rasul-Nya, kepada pemimpin kaum muslimin, dan kepada segenap kaum muslimin pada umumnya." (HR Muslim)

 
Pengertian Nasihat

Kata nasihat berasal dari bahasa Arab, yaitu dari kata kerja nashaha yang berarti murni atau bersih dari segala kotoran, tetapi bisa juga berarti menjahit. Imam Al-Khaththabi r.a. menjelaskan arti kata nasihat sebagaimana dinukil oleh Imam Ibnu Rajab r.a. dalam kitabnya, Jami'atul Ulum wal-Hikam, "Nasihat adalah kata untuk menerangkan suatu pengertian, yaitu keinginan kebaikan untuk orang yang dinasihati."

Adapun sabda Rasulullah saw. bahwa din itu adalah nasihat, hal itu bukan berarti bahwa nasihat itu merupakan keseluruhan dari din ini, tetapi maknanya sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ibnu Daqiqil Ied dalam syarah Al-Arbain an-Nawawiyah bahwa nasihat itu merupakan tiang serta tonggak dari din ini, sebagaimana sabda beliau, "Haji itu Arafah."

Pengertian Nasihat kepada Allah

Imam Al-Khaththabi rhm. berkata, "Hakikat kata kepada Allah sesungguhnya kembali kepada hamba itu sendiri dalam nasihatnya kepada diri sendiri, karena Allah tidak membutuhkan nasihat."

Pengertian nasihat kepada Allah adalah dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, baik perintah yang wajib maupun yang sunah, begitu pula meninggalkan larangan yang makruh, lebih-lebih yang haram.

Dan, kewajiban yang paling utama adalah mentauhidkan Allah. Setiap muslim wajib meyakini bahwa Allah adalah pencipta, pemilik, pemelihara, dan pengatur. Dialah yang menghidupkan dan mematikan serta memberi rezeki kepada kita semua.

Apabila demikian keadaannya, wajib bagi setiap muslim beribadah kepada Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Ia harus meyakini tidak ada yang dapat memberikan manfaat atau madarat, kecuali Allah semata. Dia harus mengenal nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya sesuai yang ditetapkan Allah dalam kitab-Nya atau melalui lisan Rasul-Nya, tanpa mengubah arti yang sesungguhnya, tanpa mengingkarinya, tanpa menyerupakan dengan makhluk-Nya, dan tanpa menanyakan kaifiyahnya (bagaimananya). Inilah yang dipahami oleh Rasulullah saw. dan para sahabatnya serta orang-orang yang beriman yang mengikuti jejak mereka. Barang siapa mengikuti jalan selain jalan mereka, maka orang tersebut sesat dan diancam oleh Allah dengan api neraka Jahannam.

Allah berfirman, "Dan barang siapa menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu. Dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu adalah seburuk-buruk tempat kembali." (An-Nisa: 115).

Seseorang yang beribadah kepada Allah semata, ia pasti mencintai-Nya dan mengharapkan rahmat-Nya serta takut akan azab dan siksa-Nya.

Imam Ibnu Qayim al-Jauziyah dalam kitabnya, Raudhatul Muhibbin wa-Nuzhatul Musytaqin, menerangkan tentang tanda-tanda orang yang cinta kepada Allah, di antaranya tunduk dan patuh kepada Allah, selalu ingat kepada-Nya, mencintai apa yang dicintai-Nya, dan membenci apa yang dibenci-Nya, lebih mengutamakan rida Allah daripada rida makhluk-Nya, sabar dan rida atas musibah yang menimpanya, memiliki kecemburuan terhadap Allah, yakni apabila dia akan marah jika aturan-aturan Allah dilanggar, selalu berupaya menegakkan agama Allah, berdakwah mengajak manusia ke jalan Allah, berjihad di jalan Allah dengan harta maupun jiwanya.

Pengertian Nasihat kepada Kitab Allah

Imam Muhammad bin Nashr al-Marwazi rhm. dalam kitabnya, Ta'dzimu Qadris Shalah, mengatakan, "Sedangkan nasihat kepada kitab Allah adalah dengan mengagungkan dan mencintainya. Karena, Alquran adalah kalamullah. Lalu, memiliki perhatian dan keinginan yang kuat untuk memahaminya, mempelajari dengan didasari rasa cinta kepadanya, serius dan penuh konsentrasi pada saat membacanya agar dapat memahami sesuai dengan yang dikehendaki Allah. Selanjutnya, ia dituntut mengamalkan seluruh isi Alquran, berakhlak dengan akhlaknya dan beradab dengan adabnya, setelah itu ia harus menyebarluaskannya kepada manusia apa yang telah ia pahami."

Untuk memahami Alquran dengan pemahaman yang benar, seseorang haruslah memahami metode yang benar pula. Imam Ibnu Katsir rhm. menjelaskan dalam Muqaddimah Tafsir Alquran al-Adzim, "Sebenar-benar metode tafsir adalah penafsiran Alquran dengan sunah, penafsiran Alquran dengan ucapan para sahabat, dan penafsiran Alquran dengan ucapan tabi'in."

Adapun penafsiran Alquran dengan ra'yu (pendapat) semata hukumnya adalah haram. Demikian sebagaimana dijelaskan oleh Syekh Islam Ibnu Taimiyah rhm. (Al-Muqaddimah fi Ushulit Tafsir).

Pengertian Nasihat kepada Rasulullah

Setiap muslim harus mengetahui sejarah hidup Rasulullah saw. dan mengerahkan segala kemampuannya untuk taat, membela, dan menolongnya. Seseorang yang bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah, berarti dia harus membenarkan segala apa yang diberitakan beliau meskipun tidak masuk akal, menaati segala yang diperintahkannya dan menjauhi segala yang dilarangnya serta beribadah kepada Allah sesuai dengan tuntunan beliau.

Seorang muslim harus yakin pula bahwa Nabi Muhammad saw. mendapat hak dari Allah untuk mewajibkan atau mengharamkan sesuatu meskipun tidak terdapat dalam Alquran. (Ar-Risalah, Imam Syafii).

Firman Allah, "(Yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasul, nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang makruf dan melarang mereka mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan mereka segala yang baik dan mengharamkan mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya memuliakannya, menolongnya, dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Alquran), mereka itulah orang-orang yang beruntung." (Al-A'raf: 157).

Orang-orang yang menang adalah yang membawa kecintaan dan ketaatan pada jejak beliau, sedang orang-orang yang merugi adalah yang terhalang dari mengikuti ajarannya. Barang siapa taat kepada beliau, maka berarti taat kepada Allah; dan barang siapa menentangnya, berarti dia telah menentang Allah, dan kelak akan mendapat balasan yang setimpal.

Pengertian Nasihat kepada Para Pemimpin Muslim

Syekh Muhammad Hayat as-Sindy rhm. dalam kitabnya, Syarahul Arba'in an-Nawawiyah, berkata, "Yang dimaksud para pemimpin muslim adalah para penguasa mereka. Seorang muslim haruslah menerima, mendengar, dan taat kepada para penguasa selama yang diperintahkan bukan maksiat. Sebab, tidak boleh taat kepada makhluk dalam hal kemaksiatan terhadap Allah Maha Pencipta. Tidak boleh memerangi mereka selama mereka belum kafir, berusaha memperbaiki keadaan mereka, meluruskan kesalahan mereka dengan jalan amar makruf nahi mungkar, mendoakan mereka agar mendapatkan kebaikan, karena kebaikan mereka berarti kebaikan bagi rakyat, dan kerusakan mereka berarti kerusakan bagi rakyat."

Pengertian Nasihat kepada Kaum Muslimin pada Umumnya

Setiap muslim adalah saudara bagi muslim yang lainnya. Rasulullah saw. menggambarkan perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal cinta, kasih sayang, dan kelembutan antar-sesama mereka bagaikan satu tubuh. Jika ada bagian tubuh yang merasa sakit, seluruh tubuh merasakan sakit pula sehingga tidak dapat tidur.

Seorang muslim haruslah mencintai kaum muslimin sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri, turut serta memikirkan dan memudahkan urusan mereka, turut bersedih atas kesedihan mereka, tidak menipu mereka, tidak menzalimi mereka dalam bentuk apa pun, membela orang-orang yang dizalimi tanpa pamrih semata-mata mencari rida Allah, tidak menimbun barang sehingga harganya melambung tinggi, mengajak mereka ke dalam kebaikan dan mencegah mereka dari kemungkaran dan kesesatan, mengasihi yang lebih muda dan menghormati yang lebih tua di antara mereka.

sumber: Jeddah Dakwah Centre (JDC) Series on Islam

Al-Islam, Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar